Oleh: gragecirebon | 25-September-2009

Korban Mudik TIAP TAHUN Jauh Lebih Besar Ketimbang Korban Bom JW Mariot-Ritz

mudik1_kendariposPagi-pagi mendengar berita editorial Metro TV memang sudah jadi kebiasaan. Pagi ini (25/9/2009) saya agak telat. Tapi nampaknya sedang membincangkan korban mudik yang tahun ini dilaporkan meningkat. Dari banyaknya komentator Editorial Metro TV, ada satu yang menarik dan agak menyentak. Komentar kritis dan kritik itu disampaikan oleh Pak Sunoto, dari Cirebon. Kebetulan saya tahu siapa Sunoto karena ia kalau tak salah nikah dengan teman SMA saya di Cirebon. Komentarnya yang baru saja saya distribusikan via Twitter @montonx kira-kira sebagai berikut.

“Jumlah korban mudik itu 10 kali lebih besar dari korban Bom Marriot, tapi kapan Presiden menitikkan airmata untuk korban-korban ini? Apa negara salah urus atau belum diurus”.

Komentar yang menyentak itu memaksa saya lebih jauh membuka internet, untuk mencari data korban mudik terbaru. Setelah mencari di detik.com, maka memang terlihat perbedaan yang mencolok kalau dibandingkan dengan korban Bom Marriot yang nota bene jauh lebih kecil tapi bisa membuat Indonesia menangis dan meraung bagai nini-nini kehilangan gigi. Entah nangis bombay atau sekedar basi-basi supaya tidak di cap negara teroris yang jelas kita telah terintimidasi secara rasial dengan memperkecil nilai nyawa manusia hanya karena sekedar warna kulit dan kepentingan semata.

Menurut Kadiv Humas Polda Metro Jaya Irjen Pol Nanan Soekarna lewat pesan singkat kepada detikcom, Kamis (24/9/2009). Jumlah kecelakaan dalam perjalanan mudik 2009 meningkat dari tahun sebelumnya. Tercatat telah terjadi 1.027 kecelakaan mulai dari H-7 dan H+2 Lebaran tahun ini.

Korban mudik secara keseluruhan naik 7,76 persen dari jumlah kejadian tahun 2008 sebanyak 953 kejadian. Lebih jauh dipaparkan, untuk korban kecelakaan pada perjalanan mudik tahun ini juga meningkat yakni dengan 1.847 jiwa. Naik 6,03 persen dari tahun 2008 dengan 1.742 jiwa.

Perinciannya, korban meninggal dunia sebanyak 373 (turun 28,13 persen), luka berat 477 (turun 2,65 persen) dan luka ringan 997 (naik 36,02 persen). Sedangkan kerugian materil Rp 827.035.475,-. Turun 29,41 persen dari tahun 2008 sebanyak Rp 1.171.678.809.

Jadi kalau dibandingkan dengan korban Bom Marriot Juli kemarin, korban mudik memang jauh lebih RUARRR BIASA. Lebih luar biasa lagi kalau kita ELING bahwa korban ini terjadi setiap tahun yang menunjukkan kalau permasalahan utama dalam mudik lebaran belum bahkan tidak bisa benar-benar diatasi oleh Pemerintah. Makanya tak heran, komentar Sunoto yang kritis itu agak menyentakkan kesadaran saya. Ternyata sampai sekian tahun korban berjatuhan di rentang waktu mudik yang singkat sudah dianggap WADAL LEBARAN saja hingga tak perlu ditangisi apalagi dijadikan momen peristiwa penting.

mudik-b-poskota

Mudik meskipun terjadi dalam rentang waktu singkat jangan dijadikan sebagai masalah sepele sebagai sekedar budaya manusia Indonesia saja. Tapi perlu lebih ditangani secara keilmuan karena menyangkut nyawa manusia Indonnesia dan menyangkut nilai ekonomi yang besar. Bayangkan saja, para pemudik membawa arus uang sebesar 16 trilyun dalam jangka waktu 2 mingguan. Itu baru pemudik lokal. Pemudik dari luar negeri, seperti TKI, mengalirkan uang ke dalam sekitar 6.6 trilyun rupiah. Nah, bisa dipbayangkan kekuatan ekonomi rakyat ini. Makanya kenapa masalah mudik yang berdarah ini nampak DISEPELEKAN padahal nyata benar terjadi tiap tahun secara rutin?

Ini fakta yang lebih nyata dalam kehidupan di Indonesia ketimbang bom2 yang bersifat insidental. Nah, pertanyaannya kapan pemerintah mampu menyelesaikan masalah ini padahal jelas menurut Sunoto, dan saya sepakat dengan pendapatnya, bahwa “Mudik Lebaran dapat dijadikan indikator untuk keberhasilan jalannya roda pemerintahan (tambahan saya: selama periode satu tahun)”. Dan tentu saja menunjukkan bagaimana kinerja Polri sebenarnya. Mungkin Polri sebagai pihak yang bertanggung jawab langsung perlu lebih serius lagi menangani mudik lebaran tiap yang rutin ini . Bahkan kalau mau sebenarnya bisa dijadikan kasus2 riset akademik sebagai Science of Mudik Lebaran. Demikian juga bagi akademisi atau pakar transportasi, masalah mudik ini nampaknya perlu dibuat ilmunya sendiri. Nah, gimana pakar transportasi ?

atmnd @ babelan, bekasi, 25-9-2009

tulisan dapat juga dibaca di http://atmonadi.com dan http://atmoon.blogdetik.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: